TOOLS PEMASARAN MARKETING MIX DAN TEKNOLOGI INFORMASI (REVOLUSI INDUSTRI 4.0)



TOOLS PEMASARAN MARKETING MIX DAN TEKNOLOGI INFORMASI (REVOLUSI INDUSTRI 4.0)


Perekonomian dunia, khususnya negara-negara berkembang seperti Indonesia, sedang bergerak menuju ekonomi digital. Perkembangan teknologi menjadi penggerak pertama perubahan tersebut. Organisasi dunia OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) menyatakan, inovasi digital diklaim mampu membawa banyak negara lebih dekat pada kemakmuran yang berkesinambungan.
Sebut saja, internet, robotik, 3-D printing, dan sebagainya. Teknologi ini membantu mengembangkan sektor-sektor ekonomi, seperti sektor ritel dengan e-commerce, transportasi dengan kendaraan automatis, pendidikan dengan aneka kursus online, kesehatan, sampai interaksi sosial melalui media sosial.

Pendekatan Pemasaran Baru

Pada tahun ini, Marketing 4.0 diperkenalkan. Ini merupakan pendekatan pemasaran yang mengkombinasikan interaksi online dan interaksi offline antara perusahaan dengan pelanggan. Secara umum, Marketing 4.0 bisa dipahami seperti itu. Di era ekonomi digital, interaksi digital saja tidaklah cukup. Kenyataannya, justru di saat dunia online berkembang, sentuhan offline menjadi titik diferensiasi yang kuat.

Selain mengkombinasikan online dan offline, Marketing 4.0 juga mengintegrasikan antara style dan substance. Artinya, merek tidak hanya mengedepankan branding bagus, tetapi juga konten yang relevan dengan pelanggan atau menyuguhkan konten yang bagus dengan kemasan yang up-to-date dan bagus.
Marketing 4.0 juga mengembangkan konektivitas machine-to-machine dan artificial intelligence dalam rangka mendongkrak produktivitas. Tetapi, itu harus diimbangi dengan pengembangkan konektivitas human-to-human yang justru akan memperkuat customer engagement. Intinya, pengembangan teknologi tidak berhenti pada teknologi itu sendiri, tapi bagaimana teknologi ini membantu merek dalam memanusiakan relasi dengan para pelanggannya.

Pemasaran Tradisional Usang?

Apakah dalam hal ini pemasaran tradisional menjadi usang? Jawabannya adalah tidak. Dalam Marketing 4.0, digital marketing tidaklah menggantikan pemasaran tradisional. Sebaliknya, keduanya hadir bersama alias coexist di era sekarang. Keduanya saling mengisi peran satu sama lain, khususnya dalam perjalanan pelanggan atau customer path.

Asal tahu saja, di era konektivitas sekarang ini, customer path telah berubah. Dulu, dikenal dengan 4A, yakni aware, attitude, act, dan act again. Sekarang, perjalanan pelanggan ini berubah menjadi 5A, yakni aware, appeal, ask, act, dan advocate. Dalam customer path yang baru ini, pemasaran tradisional dan digital marketing bisa hadir secara bersama. Bisa jadi, misalnya, orang sadar akan sebuah produk melalui iklan tradisional di televisi. Lalu, kemudian ia bertanya secara online di media sosial, kemudian ia membeli, dan karena puas ia kemudian merekomendasikan produk tersebut ke komunitasnya, baik di media sosial maupun komunitas offline.

Pada intinya, Marketing 4.0 menjadi pendekatan pemasaran yang mengkombinasikan interaksi online dan offline yang tujuan utamanya adalah memenangkan advokasi konsumen.

KESIMPULAN DARI 3 STUDI KASUS TUGAS SEBELUMNYA

Menurut saya , dari ketiga studi kasus tugas sebelumnya pada Perusaahan Kellogss, PT Unilever dan juga PT Bank Cental Asia, Tbk (BCA) kedua tools marketing mix dan teknologi informasi revolusi industri 4.0 sangat sinergi dan saling mendukung.
Dimana pada Perusahaan Kellogs, berhasil dalam aspek (harga) price dan (tempat) place nya, yaitu bertempatkan di India dengan melihat budayanya dan mengubah menjadikan sarapan yang sehat dengan harga yg terjangkau, Menggunakan pola strategi yang beradaptasi dengan kondisi pasar lokal di India dan dengan mengubah diri menjadi merek Global . Perusahaan dapat mencapai tujuan tersebut, dengan menggunakan manufaktur lokal , memproduksi varian Indianised produk mereka untuk mengurus konsumen selera lokal , menggunakan selebriti lokal sebagai brand ambassador .
Promosi yg dilakukan dengan brand ambassador lokal, produk makanan yg sudah disesuaikan dengan budaya India dan di support dengan teknlogi informasi iklan, sehingga produk yang sebelumnya tidak bisa diterima masyarakat menjadi produk yang laris di negara tersebut.
Sedangkan pada perusahaan Unilever, dimana sudah memiliki citra yg baik dimata masyarakat, sehingga PT Unilever menggunakan strategi Komunikasi Pasar Terpadu atau Integrated Marketing Communication (IMC). Strategi ini berupaya untuk memadukan dan mengkoordinasikan semua saluran komunikasi untuk menyampaikan pesan secara jelas, konsisten, dan berpengaruh kuat terhadap perusahaan dan produknya. Dengan di support teknologi informasi yg semakin mudah dijangkau masyarakat, perusahaan ini pun terus berkembang dan  berinovasi dalam memasarkan produknya sepeti melalu e-commerce

Berbeda dengan halnya PT Bank Central Asia, yaitu pada layanan jasa






Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAWASAN NUSANTARA

Kisah Pengusaha Sukses

Ilustrasi Usaha Kuadran BCG