Tugas ekonomi MOneter [NO.1]

A. Teori Permintaan Uang

Pada dasarnya nilai uang dapat diukur berdasarkan harga barang yang ada di sebuah negara. Dengan pemahaman ini, nilai uang dapat dibedakan menjadi :
• Internal Value of Money, menunjukkan jumlah komoditi yang dapat dibeli/diperoleh dengan sejumlah uang tertentu à menunjukkan daya beli uang (Purchasing Power)
• External Value of Money, menunjukkan nilai suatu mata uang bila diukur dengan mata uang dari negara lain à Exchange Rate, misalnya Rp 9.200,- = US $ 1

Internal Value of Money
Daya beli uang sangat ditentukan oleh harga barang tersebut, semakin tinggi harga komoditi (barang dan jasa), maka semakin sedikit kooditi yang bisa diperoleh dengan sejumlah uang, yang berarti daya beli (Purcahsing Power) akan menurun. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah harga komoditi, maka semakin banyak jumlah komoditi yang bisa diperoleh, yang berarti daya beli uang tersebut meningkat.


Teori moneter yang dapat menjelaskan masalah Internal Value of Money di atas, antara lain adalah :

 A.1. Teori Kuantitas Sederhana
Teori ini termasuk teori klasik yang dikembangkan oleh David Hume pada tahun 1752. Inti dari teori ini adalah bahwa Perubahan harga komoditi akan berbanding lurus secara proporsional dengan perubahan Jumlah Uang yang Beredar (JUB). Jika JUB naik 2x maka harga komoditi akan naik 2x juga.

Asumsi yang mendasari teori ini adalah :
a. Uang hanya digunakan oleh masyarakat hanya untuk tujuan transaksi dan berjagajaga saja
b. Velocity uang dianggap tetap
c. Jumlah produksi komoditi (barang dan jasa) dianggap tetap, sesuai asumsi perekonomian berada pada kondisi full employment.

A.2. Transaction Equation
Teori ini berangkat dari penyempurnaan yang dilakukan terhadap teori moneter yang dikemukakan oleh Irwing Fisher dengan konsep utamanya :
MV = PT
dimana :
M : Jumlah uang
V : Velocity, Tingkat perputaran uang, yakni berapa kali suatu mata uang berpindah tangan
P : Harga barang
T : Volumen/Jumlah barang yang menjadi objek transaksi

Persamaan di atas dapat diartikan bahwa seluruh pembayaran masyarakat (MV) dikatakan sebagai perkalian antara harga dan kuantitasnya atau volumen perdaganan yang terjadi di masyarakat (PT). Atau dengan kata lain, pembayaran oleh masyarakat identik dengan penerimaan pegusaha. Dalam teori klasik ini, dianggap bahwa motivasi masyarakat memegang uang adalah untuk transaksi dan berjaga-jaga. Persamaan tsb juga dapat dirubah menjadi :

P = MV  
         T
Dengan demikian ada tiga faktor yang mempengaruhi harga komoditi, yakni Jumlah uang yang beredar (M), Veocity (V), dan Jumlah komoditi yang diperdagangkan.

Permintaan uang untuk tujuan transaksi tersebut akan meningkat dikarenakan dua hal berikut ini:
• Perbedaan waktu antara penerimaan dan pengeluaran yang semakin besar
• Ketidaksempurnaan di dalam pasar kredit, karena jika pasar kreditnya baik maka masyarakat tidak memerlukan uang kas untuk menjembatani kekurangan ‘gap’ antara penerimaan dan pengeluarannya

Pada tahap selanjutnya, kebutuhan uang untuk transaksi ini berkembang secara proporsiaonal dengan tingkat pendapatan nasional, seperti terlihat dalam model persamaan berikut :
Mt = k.Y
Persamaan ini dikembangkan oleh Alfred Marshall, Dimana :
Mt = Kebutuhan uang untuk transaksi di suatu waktu
Y = Pendapatan nasional

K = Besar kecilnya keinginan masyarakat untuk memegang bagian dari pendapatan/kekayaannya dalam bentuk kas

Kelemahan-kelamahan dari Teori Kuantitas ini adalah :
a. Dalam kenyataannya, perubahan jumlah uang yang beredar, tidak selalu langsung berakibat pada perubahan penggunaan uang tersebut
b. Teori ini telah mengabaikan pengaruh tingkat bunga terhadap perubahan permintaan uang. Teori ini mengangap bahwa permintaan leih disebabkan karena pendapatan, karena motivasinya adalah untuk transaksi, jadi tidak ada hubungannya dengan tngkat bunga.
c. Dalam masyarakat modern, velocity uang tidaklah stabil, karena ada banyak alternatif yang bisa masyarakat pilih dari kelebihan uang yang dia miliki.

Alternatif-alternatif tersebut diantaranya adalah :
• Untuk menambah kas
• Untuk menambah tabungannya
 • Untuk menambah pembelian barang dan jasa
• Untuk menambah pembelian surat-surat berharga

Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam Teori Kuantitas, :
a. Tambahan Jumlah Uang yang Beredar akan dibelanjakan seluruhnya tanpa terpikir untuk ditabung sebagian
b. Velocity dan Jumlah komoditi dianggap tetap dan perubahannya hanya dipengaruhi oleh faktor di luar moneter
c. Jumlah Uang yang Beredar tidak akan mempengaruhi sektor riil, sektor ini hanya dipengaruhui oleh teknologi dan sumber daya Manusia
d. Tingkat harga akan selalu berubah secara proporsional mengikuti perubahan Jumlah Uang yang beredar

A.3. Teori Kuantitas Modern
Teori ini dipopulerkan dan dikembangkan oleh Milton Friedman, dengan mengatakan bahwa permintaan uang itu sejalan dan identik dengan permintaan untuk komoditi tahan lama.
Secara ringkas model persamaan yang diberikan ada kemiripan dengan model persamaan kuantitas dari salah satu teori klasik, yakni :
 M = k.Y = (1/v) . Y
Dimana :
M=Jumlah Uang yang Beredar
k = Besar kecilnya keinginan masyarakat untuk memegang bagian dari pendapatan/kekayaannya dalam bentuk kas
Y = Pendapatan nasional
 V = Velocity

A.4. Teori Permintaan Uang Keynes
Secara umum, Keynes menyetujui dua hal, yakni :
 1. Motifasi masyarakat membutuhkan atau memegang uang adalah untuk transaksi dan berjaga-jaga, dan ini tergantung dari pendapatan masyarakat tersebut. Umumnya masyarakat dengan pendapatan tinggi akan melakukan transaksi yang lebih banyak dibanding masyarakat dengan pendapatan rendah
2. Selain itu, masyarakat juga memiliki motivasi lainnya yakni untuk kepentingan spekulasi, dan hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat bunga. Bagi Keynes, motivasi inilah yang lebih memberikan pengearuh pada perekonomian

Motivasi untuk Transaksi dan Berjaga-jaga Menurut Keynes, masyarakat memerlukan uang kas untuk transaksi dan berjaga-jaga, karena :
a. Karena trnasaksi pengeluaran seringkali terjadi lebih dahulu dari penerimaan/pendapatannya
b. Pengeluaran seringkali tidak dapat diperkirakan sebelumnya
c. Penerimaan yang diharapkan tidak jadi diterima
d. Pengeluaran yang terjadi sangat penting dan menguntungkan untuk dilakukan lebih dahulu

Motivasi untuk Spekulasi Motiv masyarakat memerlukan uang kas untuk spekulasi sangat dipengaruhi oleh tingkat bunga. Semakin tinggi tingkat bunga, semakin kecil keinginan masyarakat untuk memegang uang kas untuk tujuan spekulasi, Mengapa ? ……Karena Pertama, dengan tingginya suku bunga, biaya yang harus ditanggung masyarakat dengan memegang uang kas terlalu tinggi, sehingga masyarakat akan menguranginya.
Kedua, Keynes memiliki hipotesis bahwa masyarakat memiliki anggapan akan adanya tingkat bunga normal, sehingga misalnya tingkat bunga yang saat ini ada dibawah tingkat bunga normal, maka masyarakat akan memperkirakan tingkat bunga tersebut akan segera naik ke tingkat yang normal, dan karena tingkat bunga naik, harga surat berharga akan turun sehingga masyarakat akan menjualnya, dan akibatnya keinginan untuk memegang uang kas akan naik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAWASAN NUSANTARA

Kisah Pengusaha Sukses

Ilustrasi Usaha Kuadran BCG